Sebuah nama perempuan yang pernah disebut hati ini sebelas tahun silam, yang dulu aku sempat mengaguminya karena parasnya yang manis,,,mungkin dulu karena aku polos, penakut atau sadar diri selaku anak manusia biasa yang terlahir di sebuah sekolah biasa….
Ia sekolah di sebuah sekolah bertaraf nasional negeri…sedangkan aku hanya anak sekolah di kejuruan…di tambah aku terlahir dari keluarga yang serba pas-pasan…. Mungkin secara logika ga bakal mungkin aku mampu mengatakan isi hatiku pada perempuan yang ku kagumi itu….
Saat ia duduk di kelas 3 SMU., aku merasa sedikit dekat dengannya, walau aku hanya bisa menatap manis melihat parasnya yang anggun, luthcu dan manis,,,Ia ternyata dekat dengan mendiang ibuku saat beliau masih hidup dan masih berjualan di kantin sekolahnya…aku sedkit heran, tapi ternyata mendiang ibuku selalu cerita tentangnya sepulang dari berjualan di kantin sekolah….baik manisnya, candanya, baiknya,,, Ia pernah bergurau bareg mendiang ibuku di hadapanku, kadang aku malu sendiri, kadang aku larang Ia candai ibuku, walau sebenarnya hatiku berkata ”tahu ga sich, klo aku suka ma kamu…”, tapi sayangnya kata-kata itu tidak mampu ku katakana pada waktu itu….
Selang tahun demi tahun, Ia berangkat ke Bandung untuk meneruskan pendidikan S1nya jurusan ekonomi,setiap Ia pulang ke sumedang dan kebeneran ketemu aku, aku merasa bahwa mulut ini mampu buat berkata sesuatu, tapi sayng….hanya senyman manis yang bisa kulakukan saat bertemu dia… terasa berat buat mengatakan sesuatu di hadapannya…
5tahun aku hidup di sumedang dengan apa yang aku punya yang samapi akhirnya ibuku meninggalkan aku sekeluarga…hidupku mulai sedikit kacau,karena tanpa senyuman dan belaian kasihnya aku merasa kehialangan arah…
Ku sibukan hariku dengan membantu ayahku mencari rumput yang saat itu kami sekeluarga menernak domba belasan ekor, kegiatan organisasipun aku lakoni, dan bisnis kecil-kecilan aku jalani…silaturahmi silaturahmi silaturhmi yang aku lakukan selama 5 tahun itu, dan akhinya akupun berencana untuk masuk kuliah tahun 2007, di sebuah sekolah tinggi di Sumedang. Sebut aja STMIK Sumedang.
Singkat cerita, tahun 2009 aku bertemu lagi dengan RSK nama singkatan di sebuah acara wisudaan Perguruan Tinggi Sebelas april dan STMIK Sumedang, yang kebetulan pada acara itu ibunya menjadi salah satu wisudawan dari sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan YPSA.
Akann tetapi, Ia dibarengi sama seorang lelaki yang tampan, dan ternyata dia adalah pacarnya….hatiku hancur, akan tetpi tidak kuperlihatkan kekecewaan di hati di depannya,,di situ aku berkata dalam hati “Ya Allah, mengapa kau pertemukan aku dengannya saat Ia sudah memiliki Pacar???”..sedikit ikhlas ku berikan akan nasib cinta ini yang selalu kandas…apa mungkin karena wajahku yan tidak begitu tampan???ataukah karena aku terlahir di keluarga yang miskin?? Ataukah Allah punya rencana Lain Untuk seorang wanita buat pendampingku?? Aku kadang sellu berkata “Ya Mungkin Belum Jodohnya Kali Ya… “
Pada akhir tahun 2007 padahal aku pertama kali berani buat maen ke Bandung memakai kendaraan motor, terkadang juga aku sering SMS ia buat nanyan kabar, minta ketemuan tapi hasilnya gagal dan gagal…
Tahun 2010, tepatnya bulang oktober, ada SMS masuk…Ia mengajaku untuk pergi ke acara pernikahan teman SMUnya di daerah Rancapurut, daerah di pinggiran kota SUmedang…padahal aku posisi lagi di bandung lagi sedang ada acara paguyuban,tapi senangnya minta ampun,,,,
Dan akhirnya kita berangkat bareng ke acara pernikahan temennya. Sepulang dari acara itu sebelum pulang ke rumah, kita berangkat ke suatu tempat dimata kita bisa melihat bintang dilangit ya saat itu di temani kilaun lampu malam kota Sumedang…
Dari situ, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hati yang telah terpendam selama bertahun-tahun, dan iapun terlihat kaget… Cuma yang paling kagetnya saat aku menengar kondisi ia sekarang yang lagi mo ‘M”…aku sedikit tertekan dengan keadaan itu, namun keberanianlah yang mampu untk mengatakan itu, karena aku sndiri takut aku menjadi seorang pecundang seumr hidup aku…..
kItapun sepakat untuk menjalin hubungan dengan waktu yang telah kita sepakati….satubulan ternyata bertambah menjadi satu bulan setengah, kita merasakan suatu rasa yang tak pernah kita miliki sebelumnya, baik aku ataupun Ia. Rasa itu sungguh keluar dari sebuah Hati yang penuh kasih dan cinta…kadang kita berpikir lebih kedepan bgaimana kita….tapi apalah daya karena beberapa hari kedepn Ia akan melangsungkan ‘M” dengan lelaki yang pernah Ia kenalkan kepadaku waktu di acara wisuda ibunya…
aku sempat bertanya, apa aku ayak dapatkan Ia di sampingku?? Ataukah Mengikhlaskan Ia Maried dengannya??? Sungguh tersa tersiksa hati ini, bertahun-tahun ku pendam rasa ini dan baru mampu ku ungkap setelah sebelas tahun lewat dengan kondisi sebulan setelahnya Ia harus menikah,,,
jujur, aku merasa senang pernah merasakan kasih sayangnya yng tulus dari seorang RSK, akan tetapi aku merasa bersalah karena aku tidak mampu mengungkapkan perasaa itu tahun-tahu kebelakang…
Aku merasa Bahwa Ia wanita Yang ku harap untuk di jadikan Pendampingku, wlau aku juga ga tau apakah itu akan terjaidi atau nggak…
Sekarang Ia Punya Kehidupan Baru dengan “S”nya,,,walau sering kumerasakan sakit setiap malam tiba, rasa gundah dang a jelas bertumpuk di pikiran ini… apa yang mesti ku perbuat sekarang?? Aku merasa lemah dan tak berdaya…
Aku Cuma bisa berdoa, semoga apa yang Ia Jalani bisa ia jalani degan ikhlas walau hatiku yang belum mengikhlaskan seratus persen kehilagan Iadari mataku dari hatiku…
Ia memberiku semangat baru buat hiupku, sesaat pernah ku ajak Ke Makam Ibuku. Kepeluk Ia dan ku bisikan kalo aku sayang padanya sampai kapanpun,,, itu merupakan niatku…
Ya Allah, Klopun kita berjodoh, satukan hati dan raga kami,,,, agar kami bisa bersama-sama memuji AsmaMu dan Berjalan Di JalanMu,,,
Kami Berharap Ya Robb, karena hanya Kepadamu Kami Memohon dan Meminta Yang Terbaik untuk Kami…
4-Miers
Selasa, 07 Desember 2010
kekuatan cinta
Oleh Aam Amirudin
Andai di dunia ini tidak ada cinta, maka hidup akan serasa gersang, hampa dan tidak ada dinamika. Cinta bisa membuat sesuatu yang berat menjadi ringan, yang sulit menjadi sederhana, permusuhan menjadi perdamaian dan yang jauh menjadi dekat. Itulah gambaran kekuatan cinta.
Cinta, ditilik dari sudut manapun selalu menarik untuk dibahas. Sejarah mencatat, sejumlah seniman, teolog sampai filosop membicarakan cinta dari berbagai perspektifnya baik dalam bentuk roman, puisi, syair bahkan sampai dalam bentuk tulisan ilmiah yang bernuansa teologis, fenomenologis, psikologis ataupun sosiologis.
Filosop sekaliber Plato bahkan pernah mengatakan �Siapa yang tidak terharu oleh cinta, berarti berjalan dalam gelap gulita�. Pernyataan ini menggambarkan betapa besar perhatian Plato pada masalah cinta, sampai-sampai dia menyebut orang yang tidak tertarik untuk membicarakannya sebagai orang yang berjalan dalam kegelapan.
Peranan cinta dalam kehidupan tidak diragukan lagi pentingnya. Cinta diyakini sebagai dasar dari perdamaian, keharmonisan, ketentraman, kebahagiaan bahkan kebangkitan peradaban. Namun apa sesungguhnya cinta itu ?
Diakui, problem yang dihadapi saat membicarakan cinta biasanya adalah persoalan definisi. Belum pernah ditemui suatu rumusan tentang cinta yang singkat, padat dan mewakili pemahaman akan hakikat cinta secara tepat.
Jalauddin Rumi pernah mengatakan bahwa cinta itu misteri, tidak ada kata-kata yang bisa mewakili kedalamannya.
Cinta tak dapat termuat dalam pembicaraan atau pendengaran kita,
Cinta adalah sebuah samudera yang kedalamannya tak terukur �
Cinta tak dapat ditemukan dalam belajar dan ilmu pengetahuan,
buku-buku dan lembaran-lembaran halaman.
Apapun yang orang bicarakan itu, bukanlah jalan para pecinta.
Apapun yang engkau katakan atau dengar adalah kulitnya;
Intisari cinta adalah misteri yang tak dapat kau buka !
Cukuplah ! Berapa banyak lagi kau akan lengketkan kata-kata di lidahmu ?
Cinta memiliki banyak penyataan melampaui pembicaraan. . .
Oleh sebab itu, disini kita tidak akan mendefinisikan cinta karena khawatir mereduksi kedalamannya. Biarlah cinta berbicara dalam perbuatan kita. Disini, kita akan mencoba mencermati unsur-unsur yang selalu ada dalam cinta.
Erich fromm, murid kesayangannya Sigmund Freud menyebutkan empat unsur yang harus ada dalam cinta, yaitu :
1. Care (perhatian). Cinta harus melahirkan perhatian pada objek yang dicintai. Kalau kita mencintai diri sendiri, maka kita akan memperhatikan kesehatan dan kebersihan diri. Kalau kita mencintai orang lain, maka kita akan memperhatikan kesulitan yang dihadapi orang tersebut dan akan berusaha meringankan bebannya. Kalau kita mencintai Allah Swt., maka kita akan memperhatikan apa saja yang Allah ridhai dan yang dimurkai-Nya.
2. Responsibility (tanggung jawab). Cinta harus melahirkan sikap bertanggungjawab terhadap objek yang dicintai. Orang tua yang mencintai anaknya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan material, spiritual dan masa depan anaknya. Suami yang mencintai isterinya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangganya. Karyawan yang mencintai perusahaannya, akan bertanggung jawab akan kemajuan perusahaannya. Orang yang mencintai Tuhannya, akan bertanggung jawab untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Itulah Responsibility.
3. Respect (hormat). Cinta harus melahirkan sikap menerima apa adanya objek yang dicintai, kelebihannya kita syukuri, kekurangannya kita terima dan perbaiki. Tidak bersikap sewenang-wenang dan selalu berikhtiar agar tidak mengecewakannya. Inilah yang disebut respect.
4. Knowledge (pengetahuan). Cinta harus melahirkan minat untuk memahami seluk beluk objek yang dicintai. Kalau kita mencintai seorang wanita atau pria untuk dijadikan isteri atau suami, maka kita harus berusaha memahami kepribadian, latar belakang keluarga, minat, dan ketaatan beragamanya. Kalau kita mencintai Tuhan, maka harus berusaha memahami ajaran-ajaran-Nya.
Kalau empat unsur ini ada dalam kehidupan kita, Insya Allah hidup ini akan bermakna. Apapun yang kita lakukan, kalau berbasiskan cinta pasti akan terasa ringan. Karena itu nabi Saw pernah bersabda: �Tidak sempurna iman seseorang kalau dia belum mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sensiri�. � Cintai oleh mu mahluk yang ada di muka bumi, pasti Allah akan mencintaimu�. (HR. Muslim)
Supremasi kebahagiaan tertinggi, kalau kita mampu mencintai orang lain dengan tulus tanpa pamrih, mencintai diri sendiri secara proporsional, mencintai Allah Swt dengan penuh loyalitas dan selalu merasa dincintai-Nya. Inginkah hidup kita bermakna ? Let Love be Your Energy ! Selamat bercinta !
Andai di dunia ini tidak ada cinta, maka hidup akan serasa gersang, hampa dan tidak ada dinamika. Cinta bisa membuat sesuatu yang berat menjadi ringan, yang sulit menjadi sederhana, permusuhan menjadi perdamaian dan yang jauh menjadi dekat. Itulah gambaran kekuatan cinta.
Cinta, ditilik dari sudut manapun selalu menarik untuk dibahas. Sejarah mencatat, sejumlah seniman, teolog sampai filosop membicarakan cinta dari berbagai perspektifnya baik dalam bentuk roman, puisi, syair bahkan sampai dalam bentuk tulisan ilmiah yang bernuansa teologis, fenomenologis, psikologis ataupun sosiologis.
Filosop sekaliber Plato bahkan pernah mengatakan �Siapa yang tidak terharu oleh cinta, berarti berjalan dalam gelap gulita�. Pernyataan ini menggambarkan betapa besar perhatian Plato pada masalah cinta, sampai-sampai dia menyebut orang yang tidak tertarik untuk membicarakannya sebagai orang yang berjalan dalam kegelapan.
Peranan cinta dalam kehidupan tidak diragukan lagi pentingnya. Cinta diyakini sebagai dasar dari perdamaian, keharmonisan, ketentraman, kebahagiaan bahkan kebangkitan peradaban. Namun apa sesungguhnya cinta itu ?
Diakui, problem yang dihadapi saat membicarakan cinta biasanya adalah persoalan definisi. Belum pernah ditemui suatu rumusan tentang cinta yang singkat, padat dan mewakili pemahaman akan hakikat cinta secara tepat.
Jalauddin Rumi pernah mengatakan bahwa cinta itu misteri, tidak ada kata-kata yang bisa mewakili kedalamannya.
Cinta tak dapat termuat dalam pembicaraan atau pendengaran kita,
Cinta adalah sebuah samudera yang kedalamannya tak terukur �
Cinta tak dapat ditemukan dalam belajar dan ilmu pengetahuan,
buku-buku dan lembaran-lembaran halaman.
Apapun yang orang bicarakan itu, bukanlah jalan para pecinta.
Apapun yang engkau katakan atau dengar adalah kulitnya;
Intisari cinta adalah misteri yang tak dapat kau buka !
Cukuplah ! Berapa banyak lagi kau akan lengketkan kata-kata di lidahmu ?
Cinta memiliki banyak penyataan melampaui pembicaraan. . .
Oleh sebab itu, disini kita tidak akan mendefinisikan cinta karena khawatir mereduksi kedalamannya. Biarlah cinta berbicara dalam perbuatan kita. Disini, kita akan mencoba mencermati unsur-unsur yang selalu ada dalam cinta.
Erich fromm, murid kesayangannya Sigmund Freud menyebutkan empat unsur yang harus ada dalam cinta, yaitu :
1. Care (perhatian). Cinta harus melahirkan perhatian pada objek yang dicintai. Kalau kita mencintai diri sendiri, maka kita akan memperhatikan kesehatan dan kebersihan diri. Kalau kita mencintai orang lain, maka kita akan memperhatikan kesulitan yang dihadapi orang tersebut dan akan berusaha meringankan bebannya. Kalau kita mencintai Allah Swt., maka kita akan memperhatikan apa saja yang Allah ridhai dan yang dimurkai-Nya.
2. Responsibility (tanggung jawab). Cinta harus melahirkan sikap bertanggungjawab terhadap objek yang dicintai. Orang tua yang mencintai anaknya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan material, spiritual dan masa depan anaknya. Suami yang mencintai isterinya, akan bertanggung jawab akan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangganya. Karyawan yang mencintai perusahaannya, akan bertanggung jawab akan kemajuan perusahaannya. Orang yang mencintai Tuhannya, akan bertanggung jawab untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Itulah Responsibility.
3. Respect (hormat). Cinta harus melahirkan sikap menerima apa adanya objek yang dicintai, kelebihannya kita syukuri, kekurangannya kita terima dan perbaiki. Tidak bersikap sewenang-wenang dan selalu berikhtiar agar tidak mengecewakannya. Inilah yang disebut respect.
4. Knowledge (pengetahuan). Cinta harus melahirkan minat untuk memahami seluk beluk objek yang dicintai. Kalau kita mencintai seorang wanita atau pria untuk dijadikan isteri atau suami, maka kita harus berusaha memahami kepribadian, latar belakang keluarga, minat, dan ketaatan beragamanya. Kalau kita mencintai Tuhan, maka harus berusaha memahami ajaran-ajaran-Nya.
Kalau empat unsur ini ada dalam kehidupan kita, Insya Allah hidup ini akan bermakna. Apapun yang kita lakukan, kalau berbasiskan cinta pasti akan terasa ringan. Karena itu nabi Saw pernah bersabda: �Tidak sempurna iman seseorang kalau dia belum mencintai orang lain sebagaimana dia mencintai dirinya sensiri�. � Cintai oleh mu mahluk yang ada di muka bumi, pasti Allah akan mencintaimu�. (HR. Muslim)
Supremasi kebahagiaan tertinggi, kalau kita mampu mencintai orang lain dengan tulus tanpa pamrih, mencintai diri sendiri secara proporsional, mencintai Allah Swt dengan penuh loyalitas dan selalu merasa dincintai-Nya. Inginkah hidup kita bermakna ? Let Love be Your Energy ! Selamat bercinta !
| Reaksi: |
Jumat, 12 Maret 2010
Langganan:
Entri (Atom)